• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, 13 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Esai; Untung Aku Bukan Pak Anies

Editor: Alfiansyah Anwar
19 Oktober 2017
di Opini
Esai; Untung Aku Bukan Pak Anies

Penulis: Muh Syukur Salman

Kemarin, aku merencanakan sebuah kegiatan workshop penulisan buku untuk para guru. Informasi alur kegiatan yang direncanakan memakan waktu sampai 4 bulan tersebut, segera kususun. Tahapan kegiatan mulai pada bulan November 2017 sampai Februari 2018. Info kegiatan tersebut selanjutnya aku share ke media sosial yang ada dengan format png. Namun, setelah aku unggah, baru tersadar bahwa tulisan yang seharusnya tahun 2018, tertulis 2017. Aku pun secara spontan berpikir, tentu mereka tahu yang kumaksud. Tidak mungkin kegiatannya akhir 2017 lalu kembali lagi ke awal 2017. Pikirku yakin.

Kegiatan hampir sebulan lagi, namun infonya sudah ku share dengan maksud mendapat respon cepat yang mau ikutan. Ternyata, benar respon pun banyak, hanya saja bukan mau ikutan. Mereka merespon tulisan tahun 2017 yang sejatinya 2018. Candaan, cibiran, bahkan olokan pun berkejaran di kolom komentar. Aku betul-betul tertegun dengan peristiwa ini. Sama sekali tak menduga respon “teman-teman” demikian. Masih terlalu banyak hal positif, benar, dan bermanfaat yang tertuang dalam info kegiatan itu, tapi mengapa yang “salah” itu yang mendapat respon. Kesalahan yang mungkin tidak lebih dari 1% dari keseluruhan kalimat dan kata dari info tersebut. Aku kira, kesalahan itu juga bisa dipikirkan pembenarannya bagi orang-orang yang tidak membutuhkan kepintaran lebih. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada terlihat.

BeritaTerkait

Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

8 Juli 2026
Bertanya di Tengah Era Algoritma

Bertanya di Tengah Era Algoritma

24 Juni 2026
Nasab Ba‘alawi

Menempatkan Kontroversi Penelitian Nasab Ba‘alawi dalam Kerangka Keilmuan

15 Juni 2026
Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

13 Juni 2026

Namun, sebenarnya baik juga mendapat respon demikian. Itu artinya mereka teliti dan saksama dalam membaca info kegiatan tersebut. Itu artinya lagi, mereka ingin ikutan, semoga saja. Kalau tidak, berarti mereka-mereka memang hanya mencari-cari apa yang salah. Ironisnya lagi, kesalahan yang sangat kecil itulah yang dibesar-besarkan, bahkan ada kesan mereka hebat telah menemukan kesalahan itu, dan orang yang dipersalahkan itu hanya berkemampuan cetek.

Aku saja yang cuma rakyat kecil, mendapat respon yang demikian. Apalagi Pak Anies Baswedan yang seorang gubernur ibukota. Satu kata saja dalam pidato Pak Anies menjadikan arahan pertamanya sebagai gubernur yang penuh hikmah serta makna tersebut, tak ada artinya buat mereka. Tidak hanya tak ada artinya, malah disalahartikan menjadi negatif. Kata “pribumi” yang dilontarkan gubernur baru DKI itu, telah membuatnya sampai dilaporkan ke polisi. Ternyata, sungguh saat ini kecenderungan mengangkat dan membesarkan kesalahan dibanding membicarakan dan menyanjung kebenaran.

Untung, aku bukan pak Anies. Kalau tidak, aku mungkin sudah dipanggil polisi karena aduan pihak-pihak yang tersinggung kalender atau penanggalan, aku salahgunakan. Lebih heboh lagi, mungkin juga karena penanggalan itu berlaku secara internasional, aku dilaporkan ke badan penanggalan dunia. Bisa repot aku. Dari sini aku belajar banyak bahwa kita, termasuk aku mungkin, lebih responsif terhadap hal-hal yang salah. Meskipun yang salah itu merupakan salah satu unsur dari seribu unsur pada satu sistem.

Sebagai guru, aku juga mendapati anak-anak yang sering saling ejek dan sering menyebut hal-hal yang negatif pada temannya. Bahkan menjadi lumrah, menanyakan seseorang dengan menyebut ciri-ciri pisik atau karakter yang buruk pada orang tersebut. Anda kenal si A yang kakiknya terlihat pincang sebelah. Mengapa harus kelurangan orang tersebut yang menjadi penandanya. Mengapan bukan kelebihannya. Anda kenal si B yang mempunyai suara merdu itu. Mengapa bukan seperti itu yang kita biasakan? Intinya, sejatinya semua kita harus bijak dalam semua hal. Adakalanya diam itu adalah emas, kalau komentar atau bicara kita tak bermanfaat. Diam bukan berarti kita tidak, hanya saja kita telah paham bahwa dia, salah. Diam juga tidak berarti bodoh, hanya saja kita yakin bahwa tentu hal tersebut ada penjelasannya. Sekian. (*)

Terkait: Anies BaswedanEsaiOpini

BeritaTerkait

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Tohir Muhammad
21 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Tohir Muhammad
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi