PAREPARE, PIJARNEWS.COM – Kerja keras, pantang menyerah dan terus berjuang merupakan cikal bakal sebuah kesuksesan. Inilah yang dirasakan Haerul Rahman—akrab disapa Heru– penjual ikan yang kini sukses membeli mobil, rumah, dan tanah.
Perjalanan Heru menjadi penjual ikan sukses bukan perkara mudah. Sebelumnya, lulusan Sekolah Dasar ini hanya bekerja sebagai karyawan di peternakan ayam selama tiga tahun. Penghasilan yang diperoleh saat itu belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Padahal saat itu, Heru masih bujang.
Sambil bekerja di perusahaan peternakan tersebut, Heru kemudian banyak belajar dan mendapatkan pesan serta dukungan dari orang sekitarnya. Pesannya yakni memulai usaha mandiri yakni menjual ikan. Mulanya, Heru malu menjadi penjual ikan. Namun dengan penuh kesabaran, akhirnya sepuluh tahun terakhir pekerjaan itu ia lakoni. Apalagi, Heru kecil memang sudah suka ke laut menemani ayahnya mencari ikan.
Anak ke dua dari delapan bersaudara pasangan Rahman dan Nuraeni itu awalnya menggunakan sepeda motor. Setahun berjualan, akhirnya membuahkan hasil. Keuntungannya ia sisihkan untuk membeli mobil bekas meski harus dicicil. Heru kini menikmati pekerjaannya berjualan menggunakan kendaraan roda empat atau mobil.

Mobil itu diperoleh dari hasil penjualan ikannya dengan cicilan Rp 2,3 juta per bulan. Meski awalnya, Heru mengaku sangat berat dengan beban cicilan mobil bak terbuka tersebut. Namun karena pantang menyerah, Heru tekun berjualan menggunakan mobil cicilannya hingga lunas. Terlebih menjual ikan menggunakan mobil memberi banyak keuntungan sebab banyak bawaannya. Mobil itu kini sudah sepuluh tahun menemaninya berjualan.
Sejak subuh, Heru sudah belanja di Pasar Lakessi. Hasil jualannya kemudian dijajakan di sekitar Jalan Ahmad Yani, Lasiming, Atletik, dan Jalan Jenderal Sudirman. Di mobilnya dipasang sound dengan lagu andalan berjudul Goyang Dumang.
Ada beragam jenis ikan yang dijual Heru. Diantaranya, ikan lajang, pareang, bolu, dan lure. Dari bebagai jenis ikan yang dijual, yang paling laris adalah ikan pareang, karena kerap dijadikan pedagang sebagai menu tambahan untuk nasi kuning.
Di sepanjang jalan tersebut, sejumlah ibu rumah tangga sejak pagi telah menunggu Heru. Sebagian bahkan harus menelepon untuk memastikan Heru berjualan dan melintas di jalan tersebut.
“Harga ikannya murah pak. Jika penjual ikan lainnya harga Rp20 ribu, maka biasanya Heru hanya menjual Rp15 ribu. Apalagi, Heru sering mengerjakan atau membersihkan ikan yang kami beli. Jadi tak perlu lagi repot membersihkan. Ikannya bisa langsung dimasak, digoreng atau dibakar,” ungkap Mama Kiki, warga Jalan Atletik yang sudah lama berlangganan dengan Heru.
Heru yang kini memiliki dua putra, Muhammad Rafin dan Muh Rifki sudah terbiasa bekerja keras. Ia mulai berangkat ke pasar membeli ikan sejak pukul 5 subuh kemudian berjualan hingga jam 12 siang. Pekerjaannya ini didukung oleh istrinya Khadijah.
Dalam sekali penjualan, omsetnya bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta rupiah. Ia mengaku bisa menyisihkan keuntungan rata-rata antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu rupiah per hari.
Tempat kediaman Heru bersama keluarganya kini berada di Jalan Bambu Runcing belakang gudang. Rumah panggung yang terbuat dari kayu ulin tersebut dibangun dari hasil menjual ikan.
Karena kedua orang tuanya telah menjual rumah dan tidak memiliki tempat tinggal lagi, akhirnya Heru meminta kedua orang tuanya untuk tinggal bersama.
Heru mengaku kini lebih nyaman menjalankan usaha sendiri dari pada bekerja di tempat orang lain.

“Kalau usaha sendiri, Bosnya langsung Allah Subhana Wataala. Jadi kadang penghasilan tidak ada batasnya,” ujar Heru.
Selain disibukkan dengan keseharianya menjual ikan, ternyata Heru juga menjalankan usaha lain dengan memelihara 16 ekor kambing di dekat rumahnya. “Jadi setelah berjualan hingga siang hari, saya mengurusi hewan ternak kambing tersebut,” kata Heru kepada Pijarnews saat berbincang disela-sela menjual ikan, Ahad 19 Agustus 2018.
Dari hasil penjualan ikannya pun, Heru kini membeli tanah untuk areal pemukiman yang dicicil selama 4 tahun. Harga cicilannya Rp2,3 juta per bulan dengan luas 385 Meter Persegi di Jalan Jenderal Sudirman. (*)
Reporter : Hamdan
Editor : Alfiansyah Anwar















