• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 19 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI : Latte Factor Vs Flexing (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 6–Terakhir)

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
13 Juli 2020
di Opini
Tamsil Hadi

Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

Berita Terkait

OPINI: Jangan Berutang! Bagaimana Kalau Terpaksa? (Seri Manajemen Keuangan Bagian 5)

OPINI : Biasakan Mencatat! (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 3)

OPINI — Wabah Covid-19 di awal tahun 2020 telah memantik munculnya banyak pembahasan. Baik dalam tataran diskusi maupun menjadi konstruksi narasi sebuah tulisan. Sudah terlalu banyak malah tulisan yang menjadikan virus ini menjadi objek bahasan utamanya. Sudut pandangnya pun sangat ramai dan beragam.

Ada yang menyorotnya dari sisi kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, komunikasi, politik, bahkan pertarungan ideologi. Tulisan seri manajemen keuangan keluarga kali ini, tidak bermaksud ikut arus pembahasan dengan topik dan objek yang serupa. Lantas untuk apa disinggung? Ya…Sekedar menjadi prolog saja, karena yang akan dibahas memang adalah seputar “virus” juga. Meski ini lain, namun namanya virus, berarti sama-sama sifatnya menyerang, mengancam, dan punya dampak merusak. Tapi berbeda dengan Covid-19, “virus” yang akan dibahas ini bukan menyerang dan mengancam tubuh manusia, tapi sasarannya adalah keuangan keluarga. Dampak yang ditimbulkan memang tidak langsung, tapi jika tidak punya daya tangkal dan imunitas maka “virus” ini juga bisa membahayakan dan memberi dampak merusak.

Diantara kita mungkin pernah merasa keheranan, terutama setelah menghitung-hitung situasi cashflow yang menipis begitu cepat melebihi estimasi. Padahal setelah diingat-ingat, belanja dan pengeluaran kita selama ini tidak ada yang terbilang terlalu mahal dan mewah. Itu perasaan kita. Namun kenyataannya yang terjadi juga tidak bisa dipungkiri. Masih berada dipertengahan bulan, tapi yang terjadi dompet sudah menipis dan cash out seperti telah meluncur tajam, bergerak melandai, dan terancam kering. Anehnya keadaan ini terjadi tanpa disadari dan kadang tidak terekam baik dalam memori. Bahkan oleh kalangan yang terbiasa mencatat sekalipun, biasanya menganggapnya sepele sehingga menjadi luput juga untuk dicatatkan.

Jika ada yang pernah mengalami hal ini, berarti kemungkinan telah terjangkiti salah satu “virus” yang kerap menyerang keuangan keluarga. “Virus”-nya biasa disebut Latte Factor, istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh David Bach (DB), seorang penulis keuangan yang berasal dari Amerika. Latte Factor adalah penggambaran tentang sebuah kebiasaan/gaya hidup yang keliatannya dianggap sepele, remeh-temeh, enteng, murah, atau minor, padahal sebenarnya punya dampak besar dalam mengacaukan keuangan keluarga. Cerita munculnya teori ini berawal dari pengalaman DB yang hampir setiap hari minum kopi di kafe (Latte, diambil dari kata salah satu kandungan/bahan dalam minuman kopi). Tentu untuk setiap cangkir minuman kopi selalu muncul harga yang harus dibayar dan itu tanpa disadari ternyata jumlahnya cukup besar dan signifikan membebani pengeluaran. Padahal membeli secangkir kopi di sebuah kafe secara rutin, bukanlah termasuk kebutuhan pokok yang bersifat vital.

Laman 1 dari 5
12...5Selanjutnya
Terkait: Latte FactorManajemen Keuangan

TerkaitBerita

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Berita Terkini

Haru Warnai Pelepasan JCH Parepare, Tasming Hamid Sampaikan Pesan Ini

Haru Warnai Pelepasan JCH Parepare, Tasming Hamid Sampaikan Pesan Ini

Editor: Muhammad Tohir
19 Mei 2026

Tekun dan Disiplin, Siswa SMKN 5 Jeneponto Dapat Bantuan dari Pemprov Sulsel

Tekun dan Disiplin, Siswa SMKN 5 Jeneponto Dapat Bantuan dari Pemprov Sulsel

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

Bupati Sidrap Turun Sawah di Desa Lise, Produktivitas Padi Capai 9,1 Ton per Hektare

Bupati Sidrap Turun Sawah di Desa Lise, Produktivitas Padi Capai 9,1 Ton per Hektare

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

HUT Perpustakaan, Pemkab Sidrap Boyong Dua Penghargaan Provinsi

HUT Perpustakaan, Pemkab Sidrap Boyong Dua Penghargaan Provinsi

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan