• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 19 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI : Latte Factor Vs Flexing (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 6–Terakhir)

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
13 Juli 2020
di Opini
Tamsil Hadi

Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

Tamsil Hadi
Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

Demikian 7 (tujuh) contoh latte factor yang kerap datang menjadi “virus” keuangan keluarga. Biasanya dilakukan tanpa disadari dan tanpa penganggaran. Latte factor perlu dibahas bukan dalam rangka merenggut kebahagiaan dan mengesampingkan aspek kenyamanan hidup. Tapi lebih untuk menjadi bahan kewaspadaan terutama bagi yang sedang ingin merancang keuangan keluarga yang sehat. Meski hampir semua orang memiliki latte factor dalam pola belanjanya, tapi jenis dan besarannya bisa berbeda-beda. Silahkan mengidentifikasi latte factor masing-masing dan setelahnya coba disikapi dengan lebih bijak.

Selain latte factor, kita juga akan menyinggung sedikit “virus” keuangan lain yang disebut Flexing. Istilah flexing ini populer digunakan zaman sekarang untuk menggelari orang yang suka pamer kekayaan dan menyombongkan diri padahal tidak menggambarkan kehidupan sebenarnya. Bisa karena apa yang dipamerkan adalah sesuatu yang dipaksakan untuk dibeli ataupun memang kenyataannya barang yang dipamerkan hanya klaim atau bukan milik sendiri.  Flexing ini identik akhirnya dengan kebohongan sehingga pelakunya dianggap juga orang-orang palsu (kw) atau bahkan penipu. Secara khusus kasus Flexing yang ingin disorot disini adalah sikap memaksakan diri untuk membeli sesuatu dengan tujuan untuk dipamerkan. Demi mendapatkan pengakuan dari khalayak, maka beragam barang dibeli tanpa kontrol. Orang yang terserang “virus” flexing akan membuat keputusan pengeluaran yang diambil tidak lagi rasional. Mereka tidak peduli lagi harga barang yang kemahalan, tidak lagi mengukur kemampuan, tidak lagi memperhitungkan resiko dan tidak berpikir lagi tentang nilai yang bisa didapatkan dari barang-barang yang dibeli.  

Kecenderungan bersikap seperti ini semakin menjadi jadi di era sosial media sekarang. Beragam saluran untuk flexing begitu mudah didapatkan. Adanya harapan mendapat respon berupa followers, likers, dan viewers menjadi motivasi untuk semakin menggebu-gebu. Meski ada juga yang flexing secara malu-malu. Bermaksud pamer juga tapi dengan cara yang lebih halus. Untuk model yang seperti punya istilah sendiri. Biasa disebut Humblebragging yang secara harfiah artinya menyombongkan diri dengan “rendah hati”. Memamerkan bukan dengan membusungkan dada tapi mungkin dikemas dalam bentuk keluhan. Meski begitu, tetap saja maksudnya sama, yakni flexing atau ingin pamer. Jika dikaitkan dengan ketahanan keuangan keluarga, maka sikap seperti ini jelas membahayakan. Seberapa kuat pun kekuatan pemasukan keluarga jika sudah mendapat serang “virus” flexing ini maka suatu saat pasti akan bobol juga. Akan menjadi sangat menyakitkan, jika untuk maksud flexing akhirnya sudah menghabiskan banyak anggaran, tapi tidak mendapatkan respon sebesar yang diharapkan. Kenapa? Karena orang-orang sekitar dan publik, ternyata sama sekali tidak pernah dan tidak mau peduli dengan apapun yang kita pamerkan. Jadi sudahlah, mari berbelanja atau mengeluarkan dana untuk hal-hal yang memang penting dan dibutuhkan.

Semoga keuangan keluarga kita bisa terbebas dari kedua “virus” ini. Setiap pengeluaran yang dilakukan selalu berangkat dari rancangan anggaran. Jika pun ada pergeseran maka bisa dipastikan porsinya tidak signifikan dan menghasilkan nilai yang jelas, baik nilai pahala, kebaikan, maupun manfaat. Ini adalah bagian terakhir dari rangkaian tulisan berseri seputar manajemen keuangan keluarga. Masih ada sebenarnya beberapa topik lagi yang penulis ingin bagikan, seperti bagaimana menyulap gaji seorang ASN/karyawan menjadi modal investasi, berbisnis dari rumah, belajar keuangan ala Rasulullah, dan yang lain. Namun insya Allah akan dibahas pada ruang dan kesempatan yang lain.

 

Berita Terkait

OPINI: Jangan Berutang! Bagaimana Kalau Terpaksa? (Seri Manajemen Keuangan Bagian 5)

OPINI : Biasakan Mencatat! (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 3)

 

Laman 5 dari 5
sebelumnya1...45
Terkait: Latte FactorManajemen Keuangan

TerkaitBerita

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Berita Terkini

Haru Warnai Pelepasan JCH Parepare, Tasming Hamid Sampaikan Pesan Ini

Haru Warnai Pelepasan JCH Parepare, Tasming Hamid Sampaikan Pesan Ini

Editor: Muhammad Tohir
19 Mei 2026

Tekun dan Disiplin, Siswa SMKN 5 Jeneponto Dapat Bantuan dari Pemprov Sulsel

Tekun dan Disiplin, Siswa SMKN 5 Jeneponto Dapat Bantuan dari Pemprov Sulsel

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

Bupati Sidrap Turun Sawah di Desa Lise, Produktivitas Padi Capai 9,1 Ton per Hektare

Bupati Sidrap Turun Sawah di Desa Lise, Produktivitas Padi Capai 9,1 Ton per Hektare

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

HUT Perpustakaan, Pemkab Sidrap Boyong Dua Penghargaan Provinsi

HUT Perpustakaan, Pemkab Sidrap Boyong Dua Penghargaan Provinsi

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan