• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, 21 Juni, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI : Latte Factor Vs Flexing (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 6–Terakhir)

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
13 Juli 2020
di Opini
Tamsil Hadi

Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

Berita Terkait

OPINI: Jangan Berutang! Bagaimana Kalau Terpaksa? (Seri Manajemen Keuangan Bagian 5)

OPINI : Biasakan Mencatat! (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 3)

OPINI — Wabah Covid-19 di awal tahun 2020 telah memantik munculnya banyak pembahasan. Baik dalam tataran diskusi maupun menjadi konstruksi narasi sebuah tulisan. Sudah terlalu banyak malah tulisan yang menjadikan virus ini menjadi objek bahasan utamanya. Sudut pandangnya pun sangat ramai dan beragam.

Ada yang menyorotnya dari sisi kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, komunikasi, politik, bahkan pertarungan ideologi. Tulisan seri manajemen keuangan keluarga kali ini, tidak bermaksud ikut arus pembahasan dengan topik dan objek yang serupa. Lantas untuk apa disinggung? Ya…Sekedar menjadi prolog saja, karena yang akan dibahas memang adalah seputar “virus” juga. Meski ini lain, namun namanya virus, berarti sama-sama sifatnya menyerang, mengancam, dan punya dampak merusak. Tapi berbeda dengan Covid-19, “virus” yang akan dibahas ini bukan menyerang dan mengancam tubuh manusia, tapi sasarannya adalah keuangan keluarga. Dampak yang ditimbulkan memang tidak langsung, tapi jika tidak punya daya tangkal dan imunitas maka “virus” ini juga bisa membahayakan dan memberi dampak merusak.

Diantara kita mungkin pernah merasa keheranan, terutama setelah menghitung-hitung situasi cashflow yang menipis begitu cepat melebihi estimasi. Padahal setelah diingat-ingat, belanja dan pengeluaran kita selama ini tidak ada yang terbilang terlalu mahal dan mewah. Itu perasaan kita. Namun kenyataannya yang terjadi juga tidak bisa dipungkiri. Masih berada dipertengahan bulan, tapi yang terjadi dompet sudah menipis dan cash out seperti telah meluncur tajam, bergerak melandai, dan terancam kering. Anehnya keadaan ini terjadi tanpa disadari dan kadang tidak terekam baik dalam memori. Bahkan oleh kalangan yang terbiasa mencatat sekalipun, biasanya menganggapnya sepele sehingga menjadi luput juga untuk dicatatkan.

Jika ada yang pernah mengalami hal ini, berarti kemungkinan telah terjangkiti salah satu “virus” yang kerap menyerang keuangan keluarga. “Virus”-nya biasa disebut Latte Factor, istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh David Bach (DB), seorang penulis keuangan yang berasal dari Amerika. Latte Factor adalah penggambaran tentang sebuah kebiasaan/gaya hidup yang keliatannya dianggap sepele, remeh-temeh, enteng, murah, atau minor, padahal sebenarnya punya dampak besar dalam mengacaukan keuangan keluarga. Cerita munculnya teori ini berawal dari pengalaman DB yang hampir setiap hari minum kopi di kafe (Latte, diambil dari kata salah satu kandungan/bahan dalam minuman kopi). Tentu untuk setiap cangkir minuman kopi selalu muncul harga yang harus dibayar dan itu tanpa disadari ternyata jumlahnya cukup besar dan signifikan membebani pengeluaran. Padahal membeli secangkir kopi di sebuah kafe secara rutin, bukanlah termasuk kebutuhan pokok yang bersifat vital.

Laman 1 dari 5
12...5Selanjutnya
Terkait: Latte FactorManajemen Keuangan

TerkaitBerita

Nasab Ba‘alawi

Menempatkan Kontroversi Penelitian Nasab Ba‘alawi dalam Kerangka Keilmuan

Editor: Tim Redaksi
15 Juni 2026

...

Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

Revolusi Techno-Moral di Gerbang Tahun Ajaran Baru

Editor: Tim Redaksi
13 Juni 2026

...

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

...

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Editor: Muhammad Tohir
26 Mei 2026

...

Berita Terkini

Ingin Tebus Motor dengan Curi Emas

Ingin Tebus Motor dengan Curi Emas

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Evaluasi RSUD Arifin Nu’mang, Sekda Jelaskan Fungsi Pengawas

Evaluasi RSUD Arifin Nu’mang, Sekda Jelaskan Fungsi Pengawas

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Temui Kepala BNN RI, Wali Kota Parepare Bahas Percepatan Pembentukan BNN Kota

Temui Kepala BNN RI, Wali Kota Parepare Bahas Percepatan Pembentukan BNN Kota

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Sekda Pinrang Hadiri Pengukuhan Kepala Perwakilan BPKP Sulsel, Dorong Penguatan Sinergi Pengawasan

Sekda Pinrang Hadiri Pengukuhan Kepala Perwakilan BPKP Sulsel, Dorong Penguatan Sinergi Pengawasan

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Bupati Sidrap Jadi Responden Sensus Ekonomi 2026, Ajak Warga Beri Data Akurat

Bupati Sidrap Jadi Responden Sensus Ekonomi 2026, Ajak Warga Beri Data Akurat

Editor: Muhammad Tohir
19 Juni 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan