• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 26 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Menghormati Nama dalam Dunia Sastra

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
20 Maret 2025
di Opini
Adekamwa

Adekamwa

Oleh: Adekamwa (Mahasiswa Program Magister Prodi Ilmu Komunikasi Unhas Angkatan 2023)

Belakangan ini, sebuah cerita singkat berjudul Terlalu Asyik Memutar Waktu yang dimuat di Pijarnews.com edisi 18 Maret 2025, menimbulkan kegelisahan yang cukup mendalam. Karya fiksi tersebut menampilkan karakter-karakter dengan nama yang sangat mirip dengan nama dosen-dosen yang memiliki peran penting dalam hidup saya.

Nama-nama seperti Sonni, Akbar, Muliadi, dan Iqbal, yang menjadi tokoh dalam cerita tersebut, bukan hanya sekadar nama fiksi bagi saya, tetapi juga memiliki makna yang sangat personal.

Sebagai mahasiswa yang pernah merasakan bimbingan mereka, keberadaan nama-nama tersebut dalam konteks yang terkesan santai dan bahkan dipadukan dengan suasana permainan domino, secara tidak langsung menimbulkan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

Meskipun penulis mungkin tidak memiliki niat untuk merujuk langsung kepada orang-orang yang saya kenal, saya merasa bahwa pemilihan nama-nama yang begitu mirip bisa menimbulkan kesan yang kurang tepat. Nama-nama dosen saya tersebut memiliki sejarah dan pengaruh yang besar dalam perjalanan akademik saya. Setiap nama itu adalah bagian dari proses belajar saya yang penuh tantangan dan perjuangan.

Berita Terkait

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Dari sini, kita perlu mempertanyakan, di mana letak batasan antara inspirasi dan penggunaan identitas pribadi dalam karya fiksi?

Tentunya, ini bukan semata-mata tentang perasaan pribadi saya. Sebagai pembaca, saya berharap setiap karya fiksi dapat mempertimbangkan sensitivitas terhadap pengalaman hidup orang lain. Nama adalah simbol yang sangat kuat, apalagi jika menyangkut orang-orang yang telah berperan penting dalam kehidupan kita. Seiring dengan perkembangan dunia sastra, kita juga dituntut untuk semakin bijaksana dalam memilih kata-kata yang bisa merangkul pembaca dari berbagai latar belakang.

Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk memahami bahwa penggunaan nama seseorang, bahkan dalam konteks fiksi, dapat memiliki implikasi emosional yang mendalam bagi pembaca tertentu.

Selain masalah nama, ada juga aspek lain yang patut dicermati dalam cerita ini, yaitu penggunaan kalimat yang kurang pas dalam dialog. Penyebutan nama “Bals” dalam berbagai bagian cerita, seperti dalam kalimat “Cepat, Bals! Giliranmu!” atau “Eh, Bals, kau bagaimana? Sudah sampai mana tugas akhirmu?” tidak hanya membuat saya merasa terhubung dengan sosok dosen saya, tetapi juga menimbulkan kebingungan dan ketidaknyamanan emosional.

Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan kata dan dialog dalam fiksi harus dilakukan dengan hati-hati, terutama ketika menggunakan nama yang memiliki konotasi personal.

Sebagai pembaca yang menghargai karya sastra, saya menyampaikan keluhan ini dengan harapan bahwa penulis bisa lebih sensitif dalam mengolah elemen-elemen cerita. Dalam dunia sastra, kita tidak hanya menciptakan karya yang menghibur, tetapi juga menghormati perasaan dan pengalaman yang mendalam dari orang-orang di sekitar kita.

Saya percaya dengan perubahan kecil, seperti mengganti nama-nama karakter dan memperhalus beberapa ungkapan, cerita ini akan semakin kuat dan menggugah, tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pembaca yang memiliki pengalaman pribadi yang terkait dengan nama-nama tersebut.

Dengan demikian, kita dapat menciptakan ruang di mana fiksi dan realitas dapat berdampingan tanpa saling melukai.

Karya sastra yang baik adalah karya yang mampu menyentuh hati pembacanya tanpa menyakiti. Ini adalah panggilan untuk kita semua, baik penulis maupun pembaca, untuk lebih bijak dan penuh empati dalam berkreasi dan mengapresiasi.

Pada akhirnya, tujuan dari sebuah karya adalah untuk menginspirasi dan menyatukan, bukan untuk menciptakan perpecahan atau ketidaknyamanan. (*)

Terkait: Opini

TerkaitBerita

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Muhammad Tohir
21 Mei 2026

...

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Berita Terkini

Diterima Wali Kota, Parepare Raih Penghargaan Nasional Pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional

Diterima Wali Kota, Parepare Raih Penghargaan Nasional Pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional

Editor: Muhammad Tohir
25 Mei 2026

Pemkab Sidrap Paparkan Usulan Hibah Rekonstruksi Jembatan Botto-Bulcen ke BNPB RI

Pemkab Sidrap Paparkan Usulan Hibah Rekonstruksi Jembatan Botto-Bulcen ke BNPB RI

Editor: Muhammad Tohir
25 Mei 2026

Abrasi di Dusun Celallang, Bupati Pinrang Tinjau Lokasi

Abrasi di Dusun Celallang, Bupati Pinrang Tinjau Lokasi

Editor: Muhammad Tohir
25 Mei 2026

Jelang Idul Adha, Bupati Pinrang Pantau Harga di Pasar Sentral: Bahan Pokok Masih Stabil

Jelang Idul Adha, Bupati Pinrang Pantau Harga di Pasar Sentral: Bahan Pokok Masih Stabil

Editor: Muhammad Tohir
25 Mei 2026

Wali Kota Parepare Pimpin Sidak Harga di Pasar Jelang Lebaran

Wali Kota Parepare Pimpin Sidak Harga di Pasar Jelang Lebaran

Editor: Muhammad Tohir
25 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan