• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 13 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Menghormati Nama dalam Dunia Sastra

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
20 Maret 2025
di Opini
Adekamwa

Adekamwa

Oleh: Adekamwa (Mahasiswa Program Magister Prodi Ilmu Komunikasi Unhas Angkatan 2023)

Belakangan ini, sebuah cerita singkat berjudul Terlalu Asyik Memutar Waktu yang dimuat di Pijarnews.com edisi 18 Maret 2025, menimbulkan kegelisahan yang cukup mendalam. Karya fiksi tersebut menampilkan karakter-karakter dengan nama yang sangat mirip dengan nama dosen-dosen yang memiliki peran penting dalam hidup saya.

Nama-nama seperti Sonni, Akbar, Muliadi, dan Iqbal, yang menjadi tokoh dalam cerita tersebut, bukan hanya sekadar nama fiksi bagi saya, tetapi juga memiliki makna yang sangat personal.

Sebagai mahasiswa yang pernah merasakan bimbingan mereka, keberadaan nama-nama tersebut dalam konteks yang terkesan santai dan bahkan dipadukan dengan suasana permainan domino, secara tidak langsung menimbulkan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

Meskipun penulis mungkin tidak memiliki niat untuk merujuk langsung kepada orang-orang yang saya kenal, saya merasa bahwa pemilihan nama-nama yang begitu mirip bisa menimbulkan kesan yang kurang tepat. Nama-nama dosen saya tersebut memiliki sejarah dan pengaruh yang besar dalam perjalanan akademik saya. Setiap nama itu adalah bagian dari proses belajar saya yang penuh tantangan dan perjuangan.

Berita Terkait

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Dari sini, kita perlu mempertanyakan, di mana letak batasan antara inspirasi dan penggunaan identitas pribadi dalam karya fiksi?

Tentunya, ini bukan semata-mata tentang perasaan pribadi saya. Sebagai pembaca, saya berharap setiap karya fiksi dapat mempertimbangkan sensitivitas terhadap pengalaman hidup orang lain. Nama adalah simbol yang sangat kuat, apalagi jika menyangkut orang-orang yang telah berperan penting dalam kehidupan kita. Seiring dengan perkembangan dunia sastra, kita juga dituntut untuk semakin bijaksana dalam memilih kata-kata yang bisa merangkul pembaca dari berbagai latar belakang.

Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk memahami bahwa penggunaan nama seseorang, bahkan dalam konteks fiksi, dapat memiliki implikasi emosional yang mendalam bagi pembaca tertentu.

Selain masalah nama, ada juga aspek lain yang patut dicermati dalam cerita ini, yaitu penggunaan kalimat yang kurang pas dalam dialog. Penyebutan nama “Bals” dalam berbagai bagian cerita, seperti dalam kalimat “Cepat, Bals! Giliranmu!” atau “Eh, Bals, kau bagaimana? Sudah sampai mana tugas akhirmu?” tidak hanya membuat saya merasa terhubung dengan sosok dosen saya, tetapi juga menimbulkan kebingungan dan ketidaknyamanan emosional.

Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan kata dan dialog dalam fiksi harus dilakukan dengan hati-hati, terutama ketika menggunakan nama yang memiliki konotasi personal.

Sebagai pembaca yang menghargai karya sastra, saya menyampaikan keluhan ini dengan harapan bahwa penulis bisa lebih sensitif dalam mengolah elemen-elemen cerita. Dalam dunia sastra, kita tidak hanya menciptakan karya yang menghibur, tetapi juga menghormati perasaan dan pengalaman yang mendalam dari orang-orang di sekitar kita.

Saya percaya dengan perubahan kecil, seperti mengganti nama-nama karakter dan memperhalus beberapa ungkapan, cerita ini akan semakin kuat dan menggugah, tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pembaca yang memiliki pengalaman pribadi yang terkait dengan nama-nama tersebut.

Dengan demikian, kita dapat menciptakan ruang di mana fiksi dan realitas dapat berdampingan tanpa saling melukai.

Karya sastra yang baik adalah karya yang mampu menyentuh hati pembacanya tanpa menyakiti. Ini adalah panggilan untuk kita semua, baik penulis maupun pembaca, untuk lebih bijak dan penuh empati dalam berkreasi dan mengapresiasi.

Pada akhirnya, tujuan dari sebuah karya adalah untuk menginspirasi dan menyatukan, bukan untuk menciptakan perpecahan atau ketidaknyamanan. (*)

Terkait: Opini

TerkaitBerita

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
4 Mei 2026

...

Berita Terkini

Baru Dilantik, Rektor IAIN Parepare Hadiri Rakor Nasional PMB PTKIN di Jakarta

Baru Dilantik, Rektor IAIN Parepare Hadiri Rakor Nasional PMB PTKIN di Jakarta

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Jawab Keluhan Warga, Wali Kota Parepare Turun Langsung Pantau Penanganan Drainase

Jawab Keluhan Warga, Wali Kota Parepare Turun Langsung Pantau Penanganan Drainase

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Siap Digelar, Diikuti 500 Atlet dari Dalam dan Luar Sulsel

Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Siap Digelar, Diikuti 500 Atlet dari Dalam dan Luar Sulsel

Editor: Muhammad Tohir
12 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan