• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 19 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI: “Prestasi” Utang Luar Negeri Indonesia: Jebakan Kapitalisme Global

Muhammad Tohir Editor: Muhammad Tohir
2 November 2020
di Opini
Yuliati

Oleh : Yuliyati Sambas, S.Pt Pegiat Literasi Komunitas Penulis Bela Islam AMK

Yuliati
Oleh : Yuliyati Sambas, S.Pt
Pegiat Literasi Komunitas Penulis Bela Islam AMK

Jika utang yang diwariskan oleh para penjajah dahulu sangat dirasakan sebagai sesuatu yang membebani. Bahkan ingin segera menyudahinya. Namun mengapa aspek pemikiran dan sistem kehidupan yang diwariskan oleh mereka hingga kini masih dianut? Ya, sesungguhnya apa yang terjadi kini bukan hanya disebabkan warisan utang yang menggunung saja. Tapi juga tersebab tidak dienyahkannya prinsip kehidupan yang disebarkan oleh negara penjajah Barat, yakni kapitalisme, sebagai anak kandung demokrasi.

Negara-negara Barat dahulu melakukan kolonialisasi dengan hard war berupa peperangan fisik. Kini upaya soft war-lah yang dipilih. Dengan menyebarkan ide sesat kapitalisme demokrasi agar dipeluk oleh negara ‘jajahan’ mereka. Salah satunya menjadikan debt trap (jebakan utang) sebagai taktik dalam memerangkap negara-negara jajahan mereka hingga tak mampu berkutik, dan akan manut mengikuti setiap dikte mereka.

Namun, tak ada sesuatu yang mustahil di dunia ini. Termasuk terselesaikannya benang kusut permasalahan di negeri ini. Ketika telah diakui bahwa akar permasalahanya itu bersifat sistemik, maka langkah penyelesaiannya pun tentu wajib bersifat sistemik.

Di dunia ini ada tiga sistem kehidupan yang saling berlomba untuk diterapkan. Pertama sosialis komunisme yang beberapa waktu lalu telah musnah karena tidak sesuai dengan fitrahnya manusia. Dengan menafikan sama sekali keberadaan Sang Pencipta. Kedua adalah kapitalisme yang kini telah banyak disadari kerusakannya. Ketiga adalah sistem kehidupan Islam. Dimana pernah berjaya mengurus masyarakat dunia selama berabad lamanya. Bahkan diakui oleh para pemikir Barat yang mau jujur dengan kehebatannya mengatur alam semesta meraih keadilan dan kesejahteraan yang didamba setiap insan.

Satu di antaranya adalah ungkapan jujur Sejarawan Barat Jacques C. Reister, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi.” (Min Rawa’i Hadhratina, karya Dr. Musthafa as-Siba’i)

Berita Terkait

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Peradaban tinggi yang dimaksud tentu ditopang oleh tingkat kesejahteraan, keamanan dan keadilan yang melingkupi seluruh penjuru negeri. Dimana para sejarawan dunia mengungkapkan bahwa saat itu adalah masa puncak keemasan peradaban Islam. Meski sesungguhnya sepanjang lebih dari 14 abad peradaban Islam mengatur dunia, beragam kebaikan senantiasa didapat oleh masyarakat.

Perkara demikian bukanlah retorika belaka atau isapan jempol. Karena sistem aturannya terpancar dari prinsip agung yakni akidah Islam. Ia berasal dari Zat yang Maha Menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan. Sementara manusia adalah makhluk yang serba terbatas bahkan dalam menentukan standar baik dan buruk yang terjadi atas diri mereka. Maka sudah sewajarnya jika manusia menghendaki kebaikan untuk berpegang hanya pada aturan-Nya.

Islam memiliki satu pandangan khas terkait urusan kesejahteraan dan pengurusan rakyat banyak. Bahwa haram atas kaum muslimin berada di bawah bayang dominasi asing. Sebagaimana dalil berikut,

“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (TQS. an-Nisâ’ [4]: 141)

Utang sebagai satu pintu menuju terseoknya negeri ke arah dominasi asing menjadi haram untuk diambil. Terlebih ketika berbasis riba. Jelas batil dan terlarang.

Sementara utang yang tidak mengandung riba juga tak berkonsekuensi perjanjian-perjanjian mengikat yang akan melemahkan posisi kedaulatan negara boleh diambil. Itu pun merupakan pintu terakhir di saat kas Baitulmal (lembaga keuangan negara dalam pandangan Islam) kosong. Sementara kekosongan Baitulmal itu sangat jarang terjadi. Itu karena mekanisme pengelolaan harta kekayaan negara dan umum berdasarkan syariat benar-benar melimpah dan lebih dari cukup untuk mengurus setiap kebutuhan publik. Juga memberi kecukupan dari setiap individu rakyat untuk mengecap hajat asasinya.

Sungguh luar biasa syariat Islam ketika mengurusi setiap permasalahan kehidupan. Tinggal satu pertanyaan tersisa. Maukah kita mengenyahkan warisan utang dan sistem kehidupan dari para penjajah? Untuk segera memilih jalan penyelesaian yang berasal dari Zat yang Maha Tahu Hakikat kebaikan dan keburukan bagi setiap hamba-Nya.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

Laman 2 dari 2
sebelumnya12
Terkait: HutangKapitalismeOpini

TerkaitBerita

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Berita Terkini

Tekun dan Disiplin, Siswa SMKN 5 Jeneponto Dapat Bantuan dari Pemprov Sulsel

Tekun dan Disiplin, Siswa SMKN 5 Jeneponto Dapat Bantuan dari Pemprov Sulsel

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

Bupati Sidrap Turun Sawah di Desa Lise, Produktivitas Padi Capai 9,1 Ton per Hektare

Bupati Sidrap Turun Sawah di Desa Lise, Produktivitas Padi Capai 9,1 Ton per Hektare

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

HUT Perpustakaan, Pemkab Sidrap Boyong Dua Penghargaan Provinsi

HUT Perpustakaan, Pemkab Sidrap Boyong Dua Penghargaan Provinsi

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

Wali Kota Parepare Ajak ASN Tingkatkan Budaya Literasi dan Baca Al-Qur’an

Wali Kota Parepare Ajak ASN Tingkatkan Budaya Literasi dan Baca Al-Qur’an

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan