• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, 30 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Opini: Wali Kota, Matilah!

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
28 Januari 2018
di Opini
Tahun politik tiba. Bapak akan dapat baju kaus bergambar. Ibu mendapat lebih banyak undangan menghadiri pengajian atau majelis dzikir. Pintu dan kaca jendela rumah mulai dijejali stiker berisi nama, foto dan slogan-slogan menarik. Laksana kolom iklan pada koran. Sementara, di sejumlah pinggir dan sudut simpang jalan terserak baliho dan spanduk deklarasi kandidat wali kota jauh waktu sebelumnya.
Parepare, 1955, Pemilihan Umum pertama dilaksanakan. Waktu itu, partai dan para aktor politik berkampanye dengan memasang spanduk, pamflet, dan brosur pada pohon, tiang listrik, dan dinding rumah warga. Bentuk kampanye yang sama hingga kini. Mungkin, kandidat wali kota kita saat ini memang miskin daya kreatif. Itu membuat saya dongkol.

Kampanye Anda tahu, pada prinsipnya adalah mengkomunikasikan sesuatu. Sudah tentu, berharap memengaruhi orang banyak.

Memasang foto pada baliho atau spanduk di pinggir dan sudut simpang jalan hanya mengotori kota. Itu menurut sejumlah politikus. Saya sependapat dengan mereka. Memang apa yang bisa diberikan oleh foto yang mejeng seperti … di pinggir jalan? Sama sekali, tidak menunjukkan kualitas seorang wali kota apalagi gagasannya. Hanya pedagang kaki lima berusia lanjut saja yang barangkali dapat kita temui kini memandang foto baliho kandidat wali kota. Lumayan, buat dinding warung, pikirnya mungkin saja.

Begitu pun dengan strategi memasang stiker di pintu dan jendela rumah. Biasanya ini dilakukan di tengah malam oleh tim pendukung politisi saat penghuni rumah sedang di ranjang. Barangkali mereka tidak pernah merasakan, juga membayangkan bagaimana repotnya mengelap jendela dan pintu di malam-malam hari raya.

Dan hal paling konyol yang sering calon wali kota lakukan saat berkampanye adalah berbagi baju kaus bergambar foto mereka. Syukur, jikalau mereka terpilih, juga selama menjabat dikenang baik. Bagaimana kalau tidak? Siapa yang mau memakainya coba? Jadi lap barangkali pun enggan!

Di zaman now politikus semestinya melawan kampanye ala nenek moyang. Nenek moyang belum mengenal internet, ponsel pintar, apalagi media sosial. Para kandidat wali kota seharusnya bertarung secara gagasan. Mereka bisa memanfaatkan pengguna ponsel pintar yang lebih banyak tunduk ketimbang bercakap hadap-hadapan. Bukan pamer-pameran gaya foto laksana model iklan pasta gigi, jualan kopiah, jas, dan lain sebagainya.

Berita Terkait

Wali Kota Ungkap Munculnya Ide Pertemuan Saudagar di Parepare

Rayakan Idul Fitri di Lapangan Andi Makkasau, Wali Kota Parepare Paparkan Capaian

Bukber Bersama Jurnalis, Wali Kota Parepare: Kita Ingin Suasana Lebih Akrab, Makanya Tanpa Protokoler

Soal Pengelolaan Sampah, Parepare Terbaik di Sulsel dan Masuk Enam Besar Nasional

Bertarung secara gagasan akan lebih mudah menarik orang untuk membaca, lalu menganalisis, mengkritisi, dan mendialogkannya. Keterbukaan dalam ini wajib. Toh, pemilih didominasi oleh orang-orang yang sudah mampu membaca bukan.

Sebagai pemilih, kita hanya perlu tahu sedikit hal tentang riwayat kandidat wali kota. Ini mudah. Informasi dapat ditemukan di sekitar tempat tinggal, keluarga, sekolah, teman, dan organisasi. Kita harus sedikit lebih aktif memang!

Sebaliknya, calon wali kota yang harus tahu banyak dan banyak tahu hal tentang kita yang akan dipimpinnya. Harus tahu kebutuhan kita sebagai masyarakat. Lingkungan tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, dan perlakuan hukum misalnya. Bukan rajin menghadiri majelis zikir yang secara temporal. Bukan menyantuni fakir, anak yatim, dan korban bencana alam untuk bahan berita pencitraan. Hal-hal seperti itu tidak layak diinformasikan. Sebab, tangan kiri tanpa diberi tahu akan tahu. Orang baik melakukannya secara rahasia.

Dengan menghimpun pengetahuan ihwal masyarakat yang hendak dipimpin, sang calon selanjutnya dapat mengemas visi dan misi politisnya—mengutamakan kepentingan masyarakat. Barang tentu, pekerjaan ini tidak mudah. Ia mesti ripuh menampung, memilah, dan mengutamakan hajat orang banyak secara realistis. Kecakapan menjadi makhluk meruang inilah yang mungkin dapat menghindarkan kepala daerah terjebak dalam nafsu kekuasaaan. Dengan kata lain, seorang wali kota harus membunuh ego kekuasaan dan pemuasan individualnya. Memperjuangkan kepentingan masyarakat seperti isi khotbah. Kalimat sedetik yang lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan.

Pemasangan alat peraga tidak dapat memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Hal serupa juga terjadi pada surat suara pemilihan. Lagi-lagi, kita hanya dihadapkan pada foto, bukan gagasan calon wali kota. Mengapa? Sebagai catatan, membaca lebih mudah merangsang kesadaran menentukan pilihan.

126.511 orang Parepare memiliki hak pilih. Itu data bulan Desember 2017.  Untuk memilih wali kota yang baik, Anda harus tahu tentangnya. Apa yang ia perjuangkan? Ke mana arah gagasannya? Dan mengapa ia mengarah dan memperjuangkan idenya?

Sejumlah jawaban atas pertanyaan tersebut di atas harus termaktub dalam strategi kampanye seorang kandidat wali kota. Jika ketiga asas itu hilang, yakinlah, ia adalah kandidat kepala daerah yang buruk. Sebab, seorang wali kota yang baik harus belajar mati sebelum ia menjabat. Dan mati, tepat saat namanya terpilih sebagai pemegang amanat masyarakat.

Penulis: Ilham Mustamin

Terkait: MatilahMenulisParepare MenulisWali Kota

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Pemkot Parepare Mulai Susun Strategi Pembangunan 2027

Editor: Muhammad Tohir
30 Maret 2026

Penurunan Kemiskinan dan Raihan Sertifikat Menuju Kota Bersih Pemkot Parepare Diapresiasi Pemprov

Editor: Muhammad Tohir
30 Maret 2026

Mobil Bantuan Pusat Dipakai Sekda Sidrap, Bupati Sidrap Sebut Demi Efisiensi Anggaran Daerah

Mobil Bantuan Pusat Dipakai Sekda Sidrap, Bupati Sidrap Sebut Demi Efisiensi Anggaran Daerah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
30 Maret 2026

Bupati Sidrap Pastikan 1.958 PPPK Paruh Waktu Dilantik: Anggaran Rp 98 Miliar Siap!

Bupati Sidrap Pastikan 1.958 PPPK Paruh Waktu Dilantik: Anggaran Rp 98 Miliar Siap!

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
30 Maret 2026

Tabrakan Maut Isuzu Box J&T vs Honda BR-V di Pinrang, Satu Penumpang Tewas

Tabrakan Maut Isuzu Box J&T vs Honda BR-V di Pinrang, Satu Penumpang Tewas

Editor: Muhammad Tohir
29 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan