• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 1 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Pengangguran Tinggi, Negara Gagal Wujudkan Kesejahteraan

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
10 September 2025
di Opini
Rahmi Surainah, M.Pd

Rahmi Surainah, M.Pd

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd

(Alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin)

Indonesia masih menempati posisi teratas sebagai negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di ASEAN pada 2025. Berdasarkan laporan Trading Economics yang dirilis Kamis, 14 Agustus 2025, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 4,76 persen pada periode Maret 2025.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan tingkat pengangguran di Indonesia pada 2025 akan mencapai 5 persen. Dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2025, IMF mencatat tren pengangguran di Indonesia cenderung meningkat, yaitu 4,9 persen pada 2024, 5,0 persen di 2025, dan diproyeksikan 5,1 persen pada 2026.

Banyaknya pengangguran ini tak hanya menekan daya beli masyarakat, tapi juga membawa dampak sosial dan politik yang luas. Ketika kesempatan kerja semakin terbatas, ketidakstabilan di negara bisa saja terpicu. Buktinya demonstrasi besar-besaran beberapa waktu lalu berujung ricuh dan penjarahan banyak didominasi oleh orang tak bekerja alias pengangguran.

Berita Terkait

Makan Siang Bergizi Gratis: Antara Investasi Kemanusiaan dan Dinamika Politik Kebijakan Publik

Judol Menghilangkan Nyawa

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Membatasi Medsos Anak: Solusi Nyata atau Sekadar Tambal Sulam?

Tingginya angka pengangguran disebabkan konsentrasi kekayaan hanya pada para kapital. Artinya sistem ekonomi kapitalis membuat tata kelola alam dan distribusi kekayaan tidak mengalir pada semua orang. Data Celios, kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 50 juta orang Indonesia.

Upaya pemerintah dengan mengadakan job fair tidak mampu menjadi solusi karena dunia industri mengalami badai PHK. Memang masalah pengangguran ini multifaktor. Tapi yang paling dominan adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di sejumlah perusahaan, khususnya di sektor pertambangan.

Job fair dengan mengandalkan pelatihan bukanlah solusi. Keterbatasan orang yang ikut dan realisasi tenaga yang dipekerjakan masih sedikit dibanding jumlah penganggur. Selain itu dilatih hanya sebagai tenaga mekanik, satpam, dll yang statusnya sebagai buruh kasar bukan leader atau pemimpin.

Seharusnya negara berkewajiban menyediakan lapangan kerja bukan bekerja sama dengan pihak ketiga yang serapan kerjanya terbatas dan bersyarat sesuai standar perusahaan. Negara harus menyiapkan SDM yang berkualitas dari bidang pendidikan sehingga output yang terlahir mereka yang produktif, ilmuan dan berkepribadian.

Namun sayang negara dalam sistem kapitalisme saat ini membuat SDM yang terlahir dari dunia pendidikan hanya bermental pekerja atau buruh. Buktinya kurikulum yang diajarkan selaras dengan kebutuhan dunia kerja sehingga tidak sedikit yang berjiwa materialis kering spritualis.

Selain itu, negara pun andil dalam menciptakan pengangguran karena banyaknya serapan tenaga asing yang masuk. Pemerintah seakan tidak percaya dengan kualitas anak negeri. Akhirnya tidak sedikit anak negeri yang bekerja di luar. Satu sisi pemerintah memberi solusi pengangguran namun di sisi lain menciptakan pengangguran.

Pemerintah terkesan hanya sebagai regulator dan jembatan perusahaan sehingga tidak bisa  membendung pekerja dari luar yang akhirnya pekerja lokal kalah bersaing. Demikianlah gambaran pengangguran dan PHK menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengurus rakyat. Pengangguran dan PHK terus meningkat niscaya dalam sistem saat ini.

Berbeda dalam sistem Islam, penguasa dalam Islam berperan sebagai raa’in yaitu mengurusi rakyatnya agar mendapatkan pekerjaan. Negara memfasilitasi rakyat agar memiliki pekerjaan, yaitu dengan pendidikan, bantuan modal, industrialisasi, pemberian tanah, dll.

Penerapan sistem ekonomi Islam menjadikan kekayaan dunia terdistribusi secara adil, tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak. Misalnya dalam sistem ekonomi terkait kepemilikan akan diatur sehingga tambang merupakan harta milik umat akan dikelola oleh negara untuk kebutuhan masyarakat.

Negara juga bisa memberikan tanah mati untuk digarap rakyat sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw. Dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi memberikan tanah yang tidak tergarap kepada mereka yang mau mengelolanya.

Pendidikan dalam Islam akan menyiapkan pelajar berkualitas, bersyaksiyah islamiyah dan bisa menciptakan pekerjaan sendiri sesuai keahliannya. Demikianlah Islam mampu wujudkan kesejahteraan dan solusi tepat pengangguran. Wallahu’alam. (*)

Terkait: Opini

TerkaitBerita

“Kemenag Berdampak” atau Sekadar Slogan? Mendesak Reposisi Pengabdian di Kampus Keagamaan

“Kemenag Berdampak” atau Sekadar Slogan? Mendesak Reposisi Pengabdian di Kampus Keagamaan

Editor: Tim Redaksi
30 April 2026

...

Makan Siang Bergizi Gratis: Antara Investasi Kemanusiaan dan Dinamika Politik Kebijakan Publik

Makan Siang Bergizi Gratis: Antara Investasi Kemanusiaan dan Dinamika Politik Kebijakan Publik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
27 April 2026

...

Judol Menghilangkan Nyawa

Judol Menghilangkan Nyawa

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
16 April 2026

...

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
13 April 2026

...

Berita Terkini

Perkuat Literasi Ilmiah, UT Makassar dan ICMI Muda Sulsel Jalin Kerja Sama Strategis dalam Seminar Akademik 2026

Perkuat Literasi Ilmiah, UT Makassar dan ICMI Muda Sulsel Jalin Kerja Sama Strategis dalam Seminar Akademik 2026

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
1 Mei 2026

DKP DEMA-FUAD IAIN Parepare Hadir di Pelosok Pinrang, Bawa Misi Ilmu dan Perubahan

DKP DEMA-FUAD IAIN Parepare Hadir di Pelosok Pinrang, Bawa Misi Ilmu dan Perubahan

Editor: Tim Redaksi
30 April 2026

“Kemenag Berdampak” atau Sekadar Slogan? Mendesak Reposisi Pengabdian di Kampus Keagamaan

“Kemenag Berdampak” atau Sekadar Slogan? Mendesak Reposisi Pengabdian di Kampus Keagamaan

Editor: Tim Redaksi
30 April 2026

Permudah Masyarakat, Imigrasi Parepare Hadirkan Layanan Appatuju

Permudah Masyarakat, Imigrasi Parepare Hadirkan Layanan Appatuju

Editor: Muhammad Tohir
30 April 2026

ITH Dorong Siswa SMKN 1 Sidrap Kuasai Coding Berbantuan AI Melalui Github Copilot

ITH Dorong Siswa SMKN 1 Sidrap Kuasai Coding Berbantuan AI Melalui Github Copilot

Editor: Muhammad Tohir
30 April 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan