• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 13 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI : Secangkir Kopi Melepas Depresi untuk Menemani Senjamu

Oleh Hanifa Baktiar (Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam IAIN Parepare)

Amrihani Editor: Amrihani
9 Januari 2023
di Opini
Hanifa Baktiar

Hanifa Baktiar

OPINI-Zaman ini dipenuhi dengan berbagai macam tekanan baik itu di dunia kerja bagi orang dewasa, Sekolah atau dalam dunia perkuliahan pada remaja dan berbagai profesi serta kesibukan lainnya. Dimana hal tersebut menjadi tolak ukur seseorang mengalami tekanan-tekanan tertentu.  Tidak jarang ditemui orang-orang yang sangat senang meluangkan waktunya untuk rehat sejenak menikmati seseduh kopi itu hanya untuk sekedar menghilangkan penat dan rasa lelahnya setelah menghadapi tekanan yang dilaluinya.

Masyarakat luas terutama remaja sering kita temui disatu tempat yang sama pada sore hari di pinggir laut untuk menanti senja seraya menyapa hamparan dinginnya angin laut. Banyak dari mereka mencintai anugrah Tuhan tersebut dan menikmati indahnya alam dengan secangkir kopi yang sengaja disuguhkannya. Memanjakan mata dengan melihat, memotret dan membagikannya di akun sosial media sudah menjadi suatu kepuasan tersendiri pada setiap individu, diantaranya untuk mencurahkan isi hati dan kepalanya.

Banyak orang yang termotivasi oleh filosofi senja, dimana senja mengajarkan bahwa keindahan itu tidak perlu untuk disuarakan, sama halnya dengan kebaikan, biarkan orang lain menilainya. Ya, tentu saja begitulah hidup seharusnya dimaknai. Adapun bagi remaja sangat senang dalam mengabadian, karena menurutnya memperbanyak dokumentasi itu penting dan keindahan senja tidak selalu sealami itu, hari ke hari keindahannya berbeda-beda.

Terlalu banyak tuntutan dan tekanan khususnya pada orang dewasa, apalagi yang sedang merintis karir akan sangat banyak masukan-masukan yang akan terus menggerogoti pemikirannya. Dengan hadirnya tuntutan dan tekanan tersebut secara tidak langsung akan melahirkan jiwa yang stres akan profesi yang dijalani. Pelarian merupakan salah satu cara membohongi isi kepala yang cukup ruwet, pergi ke sebuah Kafe atau menenangkan diri dengan meminum kopi tentunya akan sedikit mengurangi beban pikiran yang ada.

Tidak hanya itu, anak muda hingga dewasa ini sering dijumpai menikmati indahnya pancaran senja di bumantara. Banyak cara yang dilakukan orang-orang untuk menikmati senja, diantaranya sekedar bercerita dengan teman-teman, duduk sendiri merasakan sejuknya angin berhembus, atau bahkan bermain gitar dan bernyanyi bersama teman-teman. Bukan hanya anak muda, orang dewasa bahkan terkadang memilih tempat yang sekaligus dapat menikmati senja untuk berbincang persoalan bisnis atau pekerjaannya. Disamping sibuk membahas pekerjaan, mereka pun dapat merilekskan jiwa mereka dari tekanan-tekanan berat pekerjaan.

Berita Terkait

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Tiga filosofi kopi: 1) merupakan karya yang bernilai, dihasilkan dari proses yang panjang dan bukan instan. 2) kopi merupakan penyemangat. 3) kopi merupakan pengikat rasa, dimana setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Kopi merupakan minuman stimulan dimana kandungannya dapat meningkatkan energi, suasana hati yang baik, kewaspadaan serta fungsi otak. Kopi sendiri memiliki makna berbeda pada setiap orang yang menikmatinya.

Mengkonsumsi kopi dapat meningkatkan produksi hormon dan dopamine yang memiliki peran sebagai pemicu kebahagiaan, terutama untuk menurunkan kecenderungan depresi dan tingkat kecemasan. Diantara kita orang-orang yang merasa tidak mampu mencapai tujuannya cenderung akan mengalami depresi sehingga meminum secangkir kopi menjadi sebuah pelarian untuk melampiaskan beberapa unek-unek yang ada dipikirannya. Hal itu, akan terus berlanjut ketika kopi tersebut cocok  dan dapat membantu kefokusan dan kewaspadaan pada orang yang mengkonsumsinya.

Depresi dalam ilmu psikologi ditandai dengan penyimpangan perasaan, pikiran dan perilaku individu. Seseorang yang mengalami depresi dapat merasakan kesedihan, kesendirian, dan menurunnya konsep diri serta menunjukkan sikap menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Depresi dapat pula dikatakan sebagai suasana hati yang berubah dengan ditandai perasaan sedih yang mendalam. Orang-orang yang mengalami depresi terkadang kehilangan minat terhadap hal-hal yang disukai, serta tentunya tidak ingin mencoba hal-hal yang baru juga.

Menghabiskan waktu dengan kopi ketika sedang ada masalah merupakan keputusan yang benar. Sebab, depresi yang berkepanjangan akan mendorong seseorang melakukan tindakan bunuh diri, sehingga membuat pilihan untuk menikmati kopi akan sangat berpengaruh pada pola pikir seseorang. Peneliti membuat kesimpulan bahwa kopi didalamnya mengandung kafein dimana secara signifikan akan mengurangi resiko depresi.

Namun, terlalu sering mengkonsumsi kopi ketika sedang mengalami gangguan depresi akan mengakibatkan kecanduan. Johns Hopkins Medicine menyatakan bahwa kecanduan kopi dapat berdampak kepada keracunan kafein, efek berhenti paksa, gangguan kecemasan serta gangguan tidur. Selain itu, meminum kopi akan menyebabkan jantung yang berdebar begitu kencang, dimana pada beberapa orang tidak menginginkannya. Hal ini terjadi karena kafein yang ada dalam kopi dapat merangsang pelepasan hormon adrenaline yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi meningkat (hipertensi) dan detak jantung yang berdetak lebih cepat.

Sejauh ini, generasi milenial terkadang dinilai tidak mengikuti ajaran orang tua dan terkadang tidak mematuhi larangan orang tua  agar tidak pulang di sela senja atau malam, padahal sesungguhnya anak muda tersebut sedang beralih dari remaja ke dewasa dengan berusaha mencari jati dirinya. Tekanan dari hal ini pun dapat memicu depresi yang berkelanjutan kepada remaja, sehingga menjadi alasan bagi mereka menikmati senja dan bukan bermaksud untuk membangkang. Oleh karena itu, generasi saat ini sangat diharapkan untuk membangun citra diri yang baik demi terwujudnya harapan-harapan dimasa mendatang.

Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

 

Terkait: BKIKopiOpiniSenja

TerkaitBerita

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Hilangnya Wibawa Guru, Generasi Tergerus Sistem Buruk

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
4 Mei 2026

...

Berita Terkini

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

8 Unit JIAT di Sidrap, Bupati: Persoalan Air Mulai Teratasi

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Kafilah Pinrang Pertahankan Prestasi di MTQ Sulsel, Bupati Irwan Bangga

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Jawab Keluhan Warga, Wali Kota Parepare Turun Langsung Pantau Penanganan Drainase

Jawab Keluhan Warga, Wali Kota Parepare Turun Langsung Pantau Penanganan Drainase

Editor: Muhammad Tohir
13 Mei 2026

Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Siap Digelar, Diikuti 500 Atlet dari Dalam dan Luar Sulsel

Open Pickleball Cahaya Mario Cup 2026 Siap Digelar, Diikuti 500 Atlet dari Dalam dan Luar Sulsel

Editor: Muhammad Tohir
12 Mei 2026

ISEI Mamuju Punya Ketua Baru, Wahyu Maulid Adha Siap Perkuat Kolaborasi Ekonomi

ISEI Mamuju Punya Ketua Baru, Wahyu Maulid Adha Siap Perkuat Kolaborasi Ekonomi

Editor: Muhammad Tohir
12 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan