PAREPARE, PIJARNEWS.COM — Panitia Musyawarah Daerah (Musda) VI Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Parepare menegaskan bahwa kepengurusan ICMI tidak harus berasal dari kalangan sarjana.
Hal ini merujuk pada pemahaman tokoh pendiri ICMI, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang memaknai cendekiawan sebagai individu yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan umat.
Ketua Panitia Musda VI ICMI Orda Parepare, Ibrahim Fattah, mengatakan kepada wartawan, Jumat (1/5/2026), bahwa selama ini ICMI kerap dipersepsikan sebagai organisasi eksklusif bagi pemilik gelar akademik. Padahal, menurutnya, konsep cendekia yang diajarkan BJ Habibie lebih menekankan pada kepedulian sosial.
“Cendekia itu bukan semata-mata soal gelar sarjana, tetapi bagaimana seseorang peka terhadap persoalan keumatan dan lingkungannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemahaman tersebut menjadi dasar bahwa ICMI bersifat inklusif. Hal itu tercermin dalam struktur organisasi satuan (Orsat) yang tidak hanya berbasis kampus atau sivitas akademika, tetapi juga berbasis masyarakat di tingkat kecamatan.
Baik Orsat kampus maupun Orsat kecamatan, lanjut Ibrahim, memiliki hak yang sama dalam proses demokrasi organisasi. Keduanya dapat mengusulkan calon ketua ICMI tingkat Orda, sekaligus memiliki hak suara untuk memilih dan dipilih dalam Musda.
“Selama calon memiliki kapasitas dan kepedulian sosial, maka bisa diusung, baik oleh Orsat maupun Orda, tanpa melihat latar belakang akademiknya,” jelas Direktur YLP2EM Parepare ini.
Dalam Musda VI ICMI Parepare, jumlah total suara yang akan menentukan kepemimpinan organisasi mencapai 37 suara. Rinciannya, sembilan suara dari Orda, masing-masing tiga suara dari delapan Orsat, tiga suara dari organisasi otonom ICMI, serta satu suara dari perwakilan organisasi wilayah (Orwil).
Menurut Ibrahim, posisi Orsat menjadi faktor penentu dalam pemilihan ketua, mengingat jumlah suaranya paling dominan dibanding unsur lainnya.
Sementara itu, rangkaian kegiatan Musda telah dipersiapkan secara matang. Pra-Musda dijadwalkan berlangsung pada Jumat (1/5/2026) pukul 13.30–16.00 Wita di Kampus ITH BJ Habibie Parepare.
Adapun puncak Musda VI akan digelar pada Ahad (3/5/2026) di Auditorium BJ Habibie, Kompleks Rumah Jabatan Wali Kota Parepare. Kegiatan tersebut juga akan dirangkaikan dengan diskusi cendekia yang menghadirkan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam.
“Seluruh rangkaian acara sudah kami siapkan, termasuk menghadirkan tokoh-tokoh ormas Islam dalam diskusi cendekia,” pungkas mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Parepare ini. (*)
Penulis : Alfiansyah Anwar












