• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

OPINI : Latte Factor Vs Flexing (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 6–Terakhir)

Editor: Tim Redaksi
13 Juli 2020
di Opini
Tamsil Hadi

Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

Tamsil Hadi
Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

 

  1. Jasa Ojol/Kurir (Delivery)

Kita hidup di era yang begitu dimanja dengan pelbagai macam kemudahan. Diantaranya dengan menjamurnya layanan berbasis online, seperti ojek online dan jasa pengantaran (delivery). Banyak keperluan yang bisa selesai hanya dengan memainkan gadget dari ruang kamar. Pesan makan dan minum bisa online. Antar jemput dan kirim barang juga demikian. Beberapa kita mungkin lebih fokus pada aspek kemudahan yang diberikan oleh layanan-layanan ini, sehingga kurang peduli pada beban keuangan yang ditimbulkan. Mungkin karena sudah terlalu nyaman jadi lupa bahwa pelayanan yang dinikmati selama ini selalu berbayar. Jika kebiasaan ini tidak terkontrol maka berpotensi menjadi latte factor yang berdaya melumpuhkan keuangan kita. Anggaplah dalam sehari kita menggunakan jasa layanan ini sebanyak 3 kali, rata-rata sekali transaksi sebesar Rp. 10.000, berarti total cash out dalam sehari sebanyak Rp. 30.000, yang artinya dalam sebulan bisa mencapai Rp. 900.000. Mungkin angka ini masih setimpal untuk yang tidak punya penopang dan alternatif sama sekali. Hitung-hitungan efisiensinya masih bisa dinalar. Misalkan bagi yang tidak punya kendaraan sendiri, maka memilih ojol atau jasa delivery masih bisa dianggap “murah” daripada harus beli kendaraan baru. Tapi yang tidak sedikit terjadi, ada orang yang sebenarnya punya kendaraan sendiri namun memilih jasa berbayar untuk menunjang mobilitas dan keperluannya setiap hari. Bergerak sedikit saja langsung pesan ojol, ada keperluan disekitar rumah pun harus delivery. Silahkan saja, asal tetap ada pertimbangan yang matang dan juga tidak kagetan jika cashflow anda selalu tidak sanggup bertahan sampai di akhir bulan.

  

  1. Produk fashion dan aksesoris

Pakaian bisa dianggap kebutuhan primer. Berbeda pembahasannya kalau sudah berbicara tentang fashion dan segala aksesorisnya, maka itu sudah masuk rana kebutuhan sekunder. Preferensinya bukan lagi soal fungsi, tapi lebih pada aspek kenyamanan, desain, model, dan gaya. Jika seseorang sangat fokus pada aspek penampilan luar maka harus siap dengan anggaran yang tidak kecil. Latte factor berkaitan dengan ini bukan tentang produk fashion atau aksesoris bermerek (branded) yang sudah pasti mahal. Tapi kita lebih khusus membahas tentang kebiasaan membeli produk fashion seperti tas, sepatu, kosmetik, gamis, jilbab dan sejenisnya, ataukah aksesoris penunjang seperti kacamata, ikat pinggang, syal, cashing hp, tas kosmetik, aksesoris kendaraan (sepeda, motor, dan mobil) dan sejenisnya, yang mesti harganya tidak terlalu mahal tapi dibeli secara rutin dan berlebihan. Kadang-kadang produk-produk tersebut dibeli hanya untuk disimpan dan menjadi koleksi. Jika ini menjadi kebiasaan, tentu akan menjadi beban keuangan yang jumlahnya akan cukup mengagetkan juga. Sehingga ada baiknya untuk keperluan ini dikontrol juga dengan baik. Jika ingin dipenuhi, maka tidak menjadi pengeluaran yang spontan, tapi dianggarkan secara berkala dengan intensitas yang tidak terlalu sering.

BeritaTerkait

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

13 Oktober 2026
Paradoks Legal Standing: Kepentingan Publik dan Akses Bersyarat

Paradoks Legal Standing: Kepentingan Publik dan Akses Bersyarat

9 Oktober 2026
Negara Menjadi Perisai Hakiki, Generasi Terlindungi

Negara Menjadi Perisai Hakiki, Generasi Terlindungi

8 Oktober 2026
Penggelapan Dana Donasi : Dimana Integritas Mahasiswa?

Penggelapan Dana Donasi : Dimana Integritas Mahasiswa?

3 Oktober 2026
Laman 4 dari 5
sebelumnya1...345Selanjutnya
Terkait: Latte FactorManajemen Keuangan

Berita Terkait

Tamsil

OPINI: Jangan Berutang! Bagaimana Kalau Terpaksa? (Seri Manajemen Keuangan Bagian 5)

Editor: Tohir Muhammad
6 Juli 2020

...

Tamsil Hadi

OPINI : Biasakan Mencatat! (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 3)

Editor: Tim Redaksi
21 Juni 2020

...

Berita Populer

  • Kabut Selimuti Parepare, BPBD Catat 71 Hektare Lahan Terbakar Sejak Juli

    Kabut Selimuti Parepare, BPBD Catat 71 Hektare Lahan Terbakar Sejak Juli

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paradoks Legal Standing: Kepentingan Publik dan Akses Bersyarat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lima Mahasiswa KPI STAIN Majene Jalani PPL di Pijarnews.com Parepare

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PWM SulSel Lantik Pimpinan Baru Pesantren Hizbul Wathan Muhammadiyah Periode 2026–2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi