• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, 22 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

OPINI : Latte Factor Vs Flexing (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 6–Terakhir)

Editor: Tim Redaksi
13 Juli 2020
di Opini
Tamsil Hadi

Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

Tamsil Hadi
Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

 

  1. Camilan/Makanan Jajanan

Camilan atau lebih populer disebut “cemilan” adalah makanan yang bersifat selingan di luar makan pagi, siang, atau malam.  Cemilan biasanya dikonsumsi untuk menunda lapar dan menambah energi. Aneka jajanan cemilan yang ditawarkan, seperti gorengan, jalangkote (pastel), pisang hijau, burger, martabak, asinan, salad, rujak, juz, es krim, minuman bubble, dll, membuat banyak diantara kita memang begitu mudah tergoda. Akhirnya kadang membeli melebihi kadar yang sebenarnya dibutuhkan. Padahal jika dihitung-hitung ternyata bisa menjadi latte factor yang efeknya lumayan juga dalam merecoki keuangan. Jika dalam sehari untuk cemilan ini rata-rata habis Rp. 20.000 saja, berarti dalam sebulan cash out bisa sampai Rp. 600.000. Jika memang kebiasaan ini susah ditinggalkan, maka ada baiknya diatur. Misalkan tidak harus setiap hari dilakukan tapi cukup diakhir pekan saja. Intensitasnya dikurangi, tapi anggaran untuk sekali cemilan yang ditingkatkan, misalkan sekali bisa sampai Rp. 50.000. Hitungan akhirnya akan tetap bisa lebih hemat. Solusi yang lain adalah dengan membuat cemilan sendiri di rumah, selain lebih sehat juga bisa lebih hemat.

 

  1. Secangkir Kopi

Kebiasaan ngopi sebenarnya sudah lama, apalagi yang dilakukan di rumah atau pas orang -orang lagi ronda dalam kompleks. Tapi trend ngopi sambil nongkrong di kafe, kedai atau warkop (coffee shop) bisa dikatakan baru ramai 1-2 dekade ini, khususnya di Indonesia. Banyak yang akhirnya terbawa arus trend ini. Segala urusan penyelesaiannya tidak afdhol jika tidak dilakukan sambil ngopi di coffee shop. Bahkan ada yang menjadikannya agenda harian, pokoknya tiada hari tanpa ngopi. Padahal harga sekali ngopi sekarang tidak lagi seperti dulu, yang cukup Rp. 5000-an sudah bisa sepuasnya. Itupun sudah plus kue dan gorengannya. Bukan hanya karena faktor inflasi atau devaluasi yang membuatnya terkesan mahal, tapi memang olahan kopi sekarang lebih variatif dan komplit. Sekali ngopi untuk yang harga standar (middle) dikisaran Rp. 20.000 – Rp. 50.000. Anggaplah itu harga yang sudah termasuk partner kue dan cemilannya. Apabila kita melakukannya setiap hari dengan mengambil harga rata-rata Rp 35.000 per cangkir, maka besaran anggaran yang dibutuhkan selama sebulan adalah Rp 1.050.000. Wow bukan? Coba bayangkan angka itu menjadi tabungan setiap bulan. Ke depan malah bisa terkumpul modal untuk membuka warung kopi sendiri.

BeritaTerkait

Politik Energi dalam Islam

Politik Energi dalam Islam

16 Juli 2026
Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

14 Juli 2026
Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

8 Juli 2026
Bertanya di Tengah Era Algoritma

Bertanya di Tengah Era Algoritma

24 Juni 2026

 

  1. Transfer ATM/Payment via Fintech

Pada kasus ini, latte factor bisa berlaku pada mereka yang sering melakukan transaksi, baik berupa transfer dana di ATM maupun pembayaran seperi air, telepon, dan listrik melalui fintech. Untuk transaksi keperluan rumah tangga yang bersifat bulanan mungkin tidak terlalu membebani. Berbeda bagi keluarga yang kebetulan juga pelaku bisnis, maka intensitas transaksinya menjadi lebih tinggi. Karena alasan malas, biasanya untuk melakukan transfer dana lebih memilih ATM Bersama (beda bank) atau membayar melalui gerai-gerai atau ritel-ritel waralaba yang menyediakan layanan pembayaran (payment) secara online (fintech). Konsekuensinya yang muncul adalah setiap transaksi yang dilakukan punya beban administrasi. Besaran bervariasi, antara Rp. 2.500 – Rp. 6.500 atau bahkan untuk transaksi tertentu bisa lebih besar lagi. Jadi jika dalam sehari transaksi yang dilakukan ada 5 macam, dengan mengambil rata-rata biaya administrasi Rp. 5.000, maka untuk sebulan anggaran tersedot mencapai Rp. 750.000 (Rp. 5.000 x 5 x 30). Angka yang seharusnya bisa ditekan jika memilih alternatif yang lebih efisien, meski sedikit merepotkan.

Laman 3 dari 5
sebelumnya12345Selanjutnya
Terkait: Latte FactorManajemen Keuangan

BeritaTerkait

Tamsil

OPINI: Jangan Berutang! Bagaimana Kalau Terpaksa? (Seri Manajemen Keuangan Bagian 5)

Editor: Tohir Muhammad
6 Juli 2020

...

Tamsil Hadi

OPINI : Biasakan Mencatat! (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 3)

Editor: Tim Redaksi
21 Juni 2020

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi