• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 19 Mei, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI : Latte Factor Vs Flexing (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 6–Terakhir)

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
13 Juli 2020
di Opini
Tamsil Hadi

Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

Tamsil Hadi
Penulis : Tamsil Hadi, M.M (Salah satu admin Grup FB : Klub Belajar Keuangan dan Akuntansi)

 

  1. Camilan/Makanan Jajanan

Camilan atau lebih populer disebut “cemilan” adalah makanan yang bersifat selingan di luar makan pagi, siang, atau malam.  Cemilan biasanya dikonsumsi untuk menunda lapar dan menambah energi. Aneka jajanan cemilan yang ditawarkan, seperti gorengan, jalangkote (pastel), pisang hijau, burger, martabak, asinan, salad, rujak, juz, es krim, minuman bubble, dll, membuat banyak diantara kita memang begitu mudah tergoda. Akhirnya kadang membeli melebihi kadar yang sebenarnya dibutuhkan. Padahal jika dihitung-hitung ternyata bisa menjadi latte factor yang efeknya lumayan juga dalam merecoki keuangan. Jika dalam sehari untuk cemilan ini rata-rata habis Rp. 20.000 saja, berarti dalam sebulan cash out bisa sampai Rp. 600.000. Jika memang kebiasaan ini susah ditinggalkan, maka ada baiknya diatur. Misalkan tidak harus setiap hari dilakukan tapi cukup diakhir pekan saja. Intensitasnya dikurangi, tapi anggaran untuk sekali cemilan yang ditingkatkan, misalkan sekali bisa sampai Rp. 50.000. Hitungan akhirnya akan tetap bisa lebih hemat. Solusi yang lain adalah dengan membuat cemilan sendiri di rumah, selain lebih sehat juga bisa lebih hemat.

 

  1. Secangkir Kopi

Kebiasaan ngopi sebenarnya sudah lama, apalagi yang dilakukan di rumah atau pas orang -orang lagi ronda dalam kompleks. Tapi trend ngopi sambil nongkrong di kafe, kedai atau warkop (coffee shop) bisa dikatakan baru ramai 1-2 dekade ini, khususnya di Indonesia. Banyak yang akhirnya terbawa arus trend ini. Segala urusan penyelesaiannya tidak afdhol jika tidak dilakukan sambil ngopi di coffee shop. Bahkan ada yang menjadikannya agenda harian, pokoknya tiada hari tanpa ngopi. Padahal harga sekali ngopi sekarang tidak lagi seperti dulu, yang cukup Rp. 5000-an sudah bisa sepuasnya. Itupun sudah plus kue dan gorengannya. Bukan hanya karena faktor inflasi atau devaluasi yang membuatnya terkesan mahal, tapi memang olahan kopi sekarang lebih variatif dan komplit. Sekali ngopi untuk yang harga standar (middle) dikisaran Rp. 20.000 – Rp. 50.000. Anggaplah itu harga yang sudah termasuk partner kue dan cemilannya. Apabila kita melakukannya setiap hari dengan mengambil harga rata-rata Rp 35.000 per cangkir, maka besaran anggaran yang dibutuhkan selama sebulan adalah Rp 1.050.000. Wow bukan? Coba bayangkan angka itu menjadi tabungan setiap bulan. Ke depan malah bisa terkumpul modal untuk membuka warung kopi sendiri.

 

Berita Terkait

OPINI: Jangan Berutang! Bagaimana Kalau Terpaksa? (Seri Manajemen Keuangan Bagian 5)

OPINI : Biasakan Mencatat! (Seri Manajemen Keuangan Keluarga, Bagian 3)

  1. Transfer ATM/Payment via Fintech

Pada kasus ini, latte factor bisa berlaku pada mereka yang sering melakukan transaksi, baik berupa transfer dana di ATM maupun pembayaran seperi air, telepon, dan listrik melalui fintech. Untuk transaksi keperluan rumah tangga yang bersifat bulanan mungkin tidak terlalu membebani. Berbeda bagi keluarga yang kebetulan juga pelaku bisnis, maka intensitas transaksinya menjadi lebih tinggi. Karena alasan malas, biasanya untuk melakukan transfer dana lebih memilih ATM Bersama (beda bank) atau membayar melalui gerai-gerai atau ritel-ritel waralaba yang menyediakan layanan pembayaran (payment) secara online (fintech). Konsekuensinya yang muncul adalah setiap transaksi yang dilakukan punya beban administrasi. Besaran bervariasi, antara Rp. 2.500 – Rp. 6.500 atau bahkan untuk transaksi tertentu bisa lebih besar lagi. Jadi jika dalam sehari transaksi yang dilakukan ada 5 macam, dengan mengambil rata-rata biaya administrasi Rp. 5.000, maka untuk sebulan anggaran tersedot mencapai Rp. 750.000 (Rp. 5.000 x 5 x 30). Angka yang seharusnya bisa ditekan jika memilih alternatif yang lebih efisien, meski sedikit merepotkan.

Laman 3 dari 5
sebelumnya12345Selanjutnya
Terkait: Latte FactorManajemen Keuangan

TerkaitBerita

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Editor: Muhammad Tohir
11 Mei 2026

...

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Mei 2026

...

Berita Terkini

Haru Warnai Pelepasan JCH Parepare, Tasming Hamid Sampaikan Pesan Ini

Haru Warnai Pelepasan JCH Parepare, Tasming Hamid Sampaikan Pesan Ini

Editor: Muhammad Tohir
19 Mei 2026

Tekun dan Disiplin, Siswa SMKN 5 Jeneponto Dapat Bantuan dari Pemprov Sulsel

Tekun dan Disiplin, Siswa SMKN 5 Jeneponto Dapat Bantuan dari Pemprov Sulsel

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

Bupati Sidrap Turun Sawah di Desa Lise, Produktivitas Padi Capai 9,1 Ton per Hektare

Bupati Sidrap Turun Sawah di Desa Lise, Produktivitas Padi Capai 9,1 Ton per Hektare

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

HUT Perpustakaan, Pemkab Sidrap Boyong Dua Penghargaan Provinsi

HUT Perpustakaan, Pemkab Sidrap Boyong Dua Penghargaan Provinsi

Editor: Muhammad Tohir
18 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan