• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Kamis, 16 April, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Opini : Maccera Manurung

Muhammad Tohir Editor: Muhammad Tohir
7 Agustus 2022
di Opini
Oleh : Niar Purnamasari
(Mahasiswa Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah IAIN Parepare)

Oleh : Niar Purnamasari (Mahasiswa Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah IAIN Parepare)

OPINI–Sulawesi Selatan dengan segala kearifan lokal yang dimiliki juga sumber daya manusianya, menjadikannya sebagai salah satu provinsi yang patut untuk dipertimbangkan di kancah Nasional. Ragam adat istiadat dan seni yang dimiliki masing-masing daerah menjadi salah satu kekayaan budaya Sulsel.

Berbicara mengenai kebudayaan Sulawesi Selatan berarti mengenal adat kebudayaan yang ada di seluruh daerah Sulawesi Selatan.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang. Kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya. Budaya itu terbentuk dari beberapa unsur yang rumit. Diantaranya yaitu adat istiadat, bahasa, karya seni, sistem agama dan politik. Bahasa sama halnya dengan budaya, yakni suatu bagian yang tak terpisahkan dari manusia.

Salah satu kebudayaan yang turun temurun yang ada di Matakali Desa Matajang Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang yaitu Maccera Manurung, yang diadakan dua kali setahun.

Maccera Manurung merupakan upacara pencucian benda pusaka peninggalan La Pariba, sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat Matakali atas limpahan rezki dari Allah swt yang diterima selama setahun. Baik itu rezki berupa kesehatan maupun hasil panen yang melimpah ruah.

Berita Terkait

Judol Menghilangkan Nyawa

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Membatasi Medsos Anak: Solusi Nyata atau Sekadar Tambal Sulam?

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Tetua yang ada di Matakali mengungkapkan, kemunculan sosok manusia yang tidak diketahui asal-usulnya di Matakali Enrekang yang mampu membawa perubahan positif di wilayah Matakali dan dikenal dengan Tomanurung La Pariba. Masyarakat Matakali sepakat mengangkat to manurung La Pariba sebagai pemimpin di wilayah mereka hingga saat lahir dan dewasa anaknya yang bernama To Jabbari dan kemudian La Pariba tiba-tiba pula menghilang dengan meninggalkan beberapa benda yaitu Kawelang, Tengkeng Bassi dan senapan, yang kemudian benda-benda peninggalan La Pariba tersebut diupacarakan oleh masyarakat Matakali dengan sebutan Maccera Manurung yang juga untuk mengenang jasa-jasa La Pariba.

Tahapan-tahapan dalam maccera Manurung yaitu, pertama masyarakat setempat ke Buttu Awo, kedua masyarakat setempat bergotong royong untuk mendirikan ayunan dan tempat untuk acara adat, ketiga pada malam hari acara masyarakat mendengarkan sejarah yang diceritakan setiap 2 tahun sekali, keempat yaitu pada pagi hari acara masyarakat setempat mengawal turunnya tetua adat, Kelima memotong ayang kemudian memotong kerbau. Keenam yaitu massajo yang artinya menyampaikan pesan leluhur terdahulu. Ketujuh yaitu madoa (berayun) dan mappadeddang yang diresmikan oleh tetua adat kemudian pak Bupati Enrekang. Kedelapan yaitu Mettaja (menunggu berkah di bagikan) berupa nasi, kerbau dan ayam, kesembilan yaitu ke Buttu wala-wala dan terakhir masyarakat setempat ke Burake untuk mengakhiri kegiatan acara Maccera Manurung tersebut.

Salah seorang warga Rosmini mengatakan, Maccera Manurung merupakan sebuah tradisi pengungkapan rasa syukur atas keberhasilan yang di dapatkan yang dilakukan setiap dua tahun sekali.

Dan tentunya harapan penulis untuk masyarakat setempat agar tetap menjaga kelestarian adat istiadat yang ada di daerah tersebut karena didalam kaidah ushul fiqh dikatakan bahwa Al-Adah Muhakkamah yang artinya Adat sebagai penentu hukum oleh karena itu dengan landasan tersebut maka masyarakat berkewajiban menjaga adat istiadat tersebut tanpa adanya unsur kesyirikan didalam adat istiadat tersebut.

Oleh : Niar Purnamasari (Mahasiswa Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah IAIN Parepare)

Terkait: Maccera ManurungOpini

TerkaitBerita

Judol Menghilangkan Nyawa

Judol Menghilangkan Nyawa

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
16 April 2026

...

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Pegawai Jasa Lainnya Perorangan, Solusi Tambal Sulam Kapitalistik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
13 April 2026

...

Membatasi Medsos Anak: Solusi Nyata atau Sekadar Tambal Sulam?

Membatasi Medsos Anak: Solusi Nyata atau Sekadar Tambal Sulam?

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 April 2026

...

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Judol Menghilangkan Nyawa

Judol Menghilangkan Nyawa

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
16 April 2026

Dalami Keamanan Siber, Siswa SMAN 8 Pinrang Ini Diganjar Penghargaan dari NASA

Dalami Keamanan Siber, Siswa SMAN 8 Pinrang Ini Diganjar Penghargaan dari NASA

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
16 April 2026

Terpilih Aklamasi, Nur Amin Saleh Nakhodai IKAPI Sulsel yang Mewadahi 90 Perusahaan Penerbit Buku

Terpilih Aklamasi, Nur Amin Saleh Nakhodai IKAPI Sulsel yang Mewadahi 90 Perusahaan Penerbit Buku

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
16 April 2026

1.300 Hektare Sawah di Pinrang Diserang Hama Tikus-Kresek, Ini Kata Bupati

Editor: Muhammad Tohir
15 April 2026

Mantan Rektor UMPAR Prof. Siri Dangnga Wafat, Wali Kota Parepare Kenang Dedikasinya

Mantan Rektor UMPAR Prof. Siri Dangnga Wafat, Wali Kota Parepare Kenang Dedikasinya

Editor: Muhammad Tohir
15 April 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan